Pep dan Klopp Dibingungkan Dengan Second Balls di Premier League, Apa itu?

pep-dan-klopp-dibingungkan-dengan-second-balls-di-premier-league-apa-itu

Pep Guardiola, manajer asal Spanyol yang dikenal sebagai salah satu manajer terbaik dunia, kerepotan menghadapi sepakbola Liga Inggris. Ya, awal kariernya di Manchester City tak semulus kala ia menukangi Barcelona atau pun Bayern Muenchen, dua kesebelasan yang pernah ia tangani sebelum menukangi City.

Pep pun buka suara terkait masalah yang ia hadapi selama menangani Manchester City. Usai dikalahkan Leicester City 2-4, yang membuat City saat itu hanya meraih empat kemenangan dalam 15 laga terakhir mereka, Pep menyadari ada hal yang harus ia pelajari dari sepakbola Inggris; mengendalikan bola kedua.

“Kami perlu meminimalisasi kesalahan. Tapi yang paling utama di sepakbola Inggris adalah mengontrol bola kedua. Tanpa hal itu, Anda tidak akan bisa bertahan,” Pep memberikan pandangannya terhadap kekalahan dan sepakbola Inggris.

Tak hanya Pep, manajer Liverpool, Juergen Klopp, ternyata punya pendapat sama mengenai bola kedua ini. Pada musim pertamanya di Liverpool, tepatnya di akhir tahun 2015, ia juga baru menyadari betapa pentingnya mengendalikan bola kedua.

“Leicester yang kami lihat, juga yang Anda lihat, bermain sepakbola dengan mengendalikan bola kedua, selalu bertarung untuk bola kedua. Jadi, saya pikir mengendalikan bola kedua akan menjadi penting menghadapi Sunderland,” kata Klopp jelang laga melawan Sunderland. “Kami perlu belajar cara bermain seperti ketika menghadapi Leicester.”

Dari pernyataan Klopp dan Pep, dua manajer yang sebelum ke Inggris menangani kesebelasan Jerman, terlihat bahwa keduanya menyoroti bola kedua. Selain itu, keduanya juga berbicara mengenai lawan yang begitu mahir menguasai bola kedua; Leicester City. Dengan Leicester City menjadi juara Liga Primer 2015/2016, tampaknya benar bahwa mengendalikan bola kedua di Inggris sangat lah penting.

Lalu, apa itu bola kedua?

“Gol kedua di Leicester tercipta dari lemparan ke dalam, bola kedua menjadi gol. Di sini [Inggris], sepakbola menjadi lebih tak terprediksi karena bola terus berada di udara dari pada di tanah. Swansea 5, Palace 4. Sembilan gol terjadi, delapan dari bola mati. Itulah sepakbola Inggris dan itu yang harus saya adaptasi,” ujar Pep.

“Selalu pada (Olivier) Giroud, bola kedua pada (Mesut) Ozil. Ini menyebabkan masalah buat kami,” kata Klopp usai Liverpool bermain imbang 3-3 menghadapi Arsenal. “Itu lah yang selalu saya pikirkan, bukan bagaimana cara membuat mereka dalam masalah.”

“Sepakbola Inggris sangat kompetitif, dan hari ini menunjukkan perbedaan sepakbola Inggris,” ujar manajer Chelsea, Antonio Conte, usai menang 4-2 melawan Stoke City. “Kami bermain menghadapi lawan yang bagus, mereka menggunakan umpan panjang. Ini membuat kami sulit untuk memotong bola dan mendapatkan bola kedua.”

Dari ketiga manajer di atas, yang terbilang baru di Liga Inggris, ketiganya menyoroti umpan-umpan panjang. Kesebelasan-kesebelasan Inggris memang identik dengan permainan umpan-umpan panjang. Bola kedua memang tak lepas dari permainan bola-bola panjang alias melambung.

Bola kedua memang merupakan hasil dari duel antar pemain saat hendak menerima umpan-umpan panjang. Lewat umpan panjang yang mengarah ke udara, bola menjadi harus digapai oleh kepala, yang barang tentu membuat masing-masing pemain sulit menguasai bola. Bola baru bisa dikuasai setelah bola pertama hasil dari duel tersebut jatuh ke tanah sehingga menjadi bola liar.

“Ketika sebuah umpan panjang diarahkan ke pemain bertahan lawan dan tak bisa langsung menguasai bola tersebut pada kesempatan pertama (karena adanya gangguan dari lawan), ini membuat banyak pemain memiliki kesempatan untuk menguasai bola pada kesempatan kedua tersebut. Sederhananya, Anda bisa mendapatkan keuntungan pada sentuhan kedua setelah kedua pemain yang berduel gagal menguasai sentuhan pertama pada bola,” tulis laman Soccer Dynamics mengenai bola kedua.

Sementara itu, menurut Jim Gordon, mantan wasit yang juga pernah menjadi pelatih di sebuah kesebelasan di Amerika Serikat, bola kedua adalah kesempatan untuk mendapatkan bola ketika bola tidak dimiliki siapapun jika pemain lawan gagal mengamankan bola pada duel pertama.

“Subjeknya di sini adalah kesempatan kedua untuk menguasai bola,” kata Gordon. “Ketika bola dalam posisi bebas, tak dikuasai siapapun, kemudian oleh seorang pemain bola dikuasai dengan nyaman. Dari sini juga bisa menghasilkan ‘bola ketiga’ jika masih ada duel setelah duel kedua dan duel pertama.”

Bagi sepakbola Inggris, ini menjadi penting karena sebagian kesebelasan masih memainkan permainan khas sepakbola Inggris yang lebih dikenal kick and rush atau juga route one football. Dari penjaga gawang atau bek mengirimkan umpan panjang pada target man, dari duel yang dilakukan target man dengan pemain lawan yang menjaganya inilah bola kedua itu datang. Karena hal ini juga, mungkin, Jose Mourinho, manajer Manchester United, begitu mengandalkan Marouane Fellaini yang begitu dibenci oleh banyak orang itu.

Pentingnya Pemain yang Handal dalam Mengamankan Bola Kedua

Pep dan Klopp menyadari pentingnya menguasai bola kedua seusai menghadapi Leicester City. Leicester memang merupakan kesebelasan yang begitu fasih memainkan route one football alias memainkan umpan-umpan panjang langsung mendekati kotak penalti lawan. Khususnya musim lalu, ketika mereka menjuarai Liga Primer.

Musim 2015/2016, berdasarkan data whoscored, Leicester mungkin hanya menempati peringkat kelima terbanyak sebagai kesebelasan yang paling sering melepaskan umpan panjang, setelah Watford, Crystal Palace, Everton, dan Norwich. Bahkan umpan gagal panjang Leicester musim lalu merupakan terbanyak kedua setelah Watford.

Namun yang menjadi penting bagi strategi Leicester adalah mengamankan bola kedua hasil duel tersebut. Dan dalam skuat berjuluk The Foxes tersebut terdapat pemain yang begitu mahir dalam berduel; N’Golo Kante.

Leicester menjadi kesebelasan dengan intersep tertinggi (810 kali) pada musim lalu. Jumlah tekel Leicester pun mencapai 1302 kali, terbanyak kedua. Meskipun banyak melakukan tekel, namun Leicester hanya memiliki rataan pelanggaran sebesar 10,7 per pertandingan, terkecil ke-12 di Liga Primer.

Catatan impresif ini tertolong oleh permainan Kante. Gelandang bertahan asal Prancis ini menjadi pemain dengan jumlah tekel terbanyak, sebanyak 6,7 kali per pertandingan, dengan rataan keberhasilan tertinggi yakni 4,7 kali per pertandingan. Begitu juga dengan intersep, Kante memimpin sebagai pemain dengan intersep terbanyak Liga Inggris, 105 kali. Di bawahnya terdapat Idrissa Gueye (94 kali) dan Laurent Koscielny (88 kali).

Kemampuan Kante tersebut begitu penting bagi Leicester yang mengandalkan umpan-umpan panjang, mengarahkan bola pada Riyad Mahrez, Jamie Vardy dan Shinji Okazaki. Meski ketiganya tak handal dalam duel udara, Kante berhasil membuat bola tetap berada dalam penguasaan Leicester untuk kemudian melancarkan serangan cepat.

Setelah membawa Leicester juara, Kante hijrah ke Chelsea. Bahkan Kante merupakan pemain pertama yang didatangkan Chelsea musim ini. Kemampuan Kante ini kemudian berguna bagi musim pertama Conte, yang menganggap sepakbola Inggris membutuhkan pemain yang handal dalam berduel.

“Seringkali Anda berusaha bermain sederhana. Akan tetapi justru banyak terjadi duel untuk bola kedua di sini, dan duel lain yang lebih umum. Ini membuat pertandingan menjadi lebih intens,” ucap Conte

Bersama skuat berjuluk The Blues tersebut, Kante menjadi pemain dengan tekel berhasil terbanyak keempat (60 tekel berhasil dari 81 percobaan), namun menjadi pemain dengan persentase keberhasilan tertinggi (74%) mengalahkan Gueye (73%) dan Jordan Henderson (71%). Namun berkat Kante ini, Chelsea sekarang menjadi pemuncak klasemen.

Sementara itu tanpa Kante, Leicester City justru tercecer ke papan bawah, berusaha menyelamatkan diri dari jurang degradasi. Tanpa mantan gelandang Caen ini, Leicester berada di urutan ke-13 perihal jumlah tekel di Liga Primer (musim lalu kedua). Jumlah intersep Leicester pun hanya membuat mereka berada di posisi ke-12 terbanyak (musim lalu pertama).

Secara tim, Chelsea memang tak memiliki catatan tekel atau intersep yang tinggi seperti Leicester ketika masih diperkuat Kante. Hal ini dikarenakan Chelsea tidak memainkan umpan-umpan panjang seperti Leicester musim lalu. Namun ketika harus mendapatkan bola kedua, Chelsea memiliki Kante sehingga Chelsea tetap kuat menghadapi kesebelasan-kesebelasan yang mengandalkan umpan-umpan panjang.

Memanfaatkan Bola Kedua ala Liverpool dan Tottenham

Liverpool musim ini tampil impresif jika dibandingkan dengan beberapa musim terakhir. Dari jumlah gol hingga peringkat sementara, Liverpool merupakan salah satu kandidat juara. Ini artinya, Juergen Klopp sudah beradaptasi dengan sepakbola Inggris, khususnya bola kedua.

Staf pelatih utama Liverpool, Pepijn Lijnders, membeberkan rahasia keberhasilan Liverpool bercokol di papan atas Liga Primer musim ini. Menurutnya ada tiga hal yang menjadi senjata utama Liverpool, yaitu attacking balance, gegenpressing alias counterpressing, dan winning the second balls.

“Satu aspek yang coba diimplementasikan oleh Klopp adalah counter-pressing, seperti yang kalian lihat. Itu adalah bagian paling penting,” ujar Linjders seperti yang dikutip This Is Anfield pada Oktober lalu. “Tapi faktanya, sebelum itu, skuat kami harus memiliki pondasi yang kami sebut keseimbangan menyerang (attacking balance), posisi para pemain saat menguasai bola untuk mengantisipasi ketika setiap saat kami kehilangan bola.”

“Satu pemain melakukan pressing, pemain kedua berada di dekatnya untuk memenangkan duel tersebut, mendapatkan bola kedua. Oleh karena itu kami tetap bisa menerapkan garis pertahanan tinggi. Dengan ini, mudah mendapatkan pemain yang bebas untuk menerima bola di lini pertahanan lawan [setelah mendapatkan bola kedua],” tambahnya.

Jika di Chelsea ada Kante, Liverpool mengandalkan Henderson untuk memainkan peran sebagai pengantisipasi bola kedua. Karenanya tak heran kontribusi Henderson musim ini lebih terlihat dibanding musim-musim sebelumnya. Salah satunya catatan tekel seperti yang sudah diungkapkan di atas.

Ini juga yang dilakukan oleh Tottenham Hotspur. Sejak musim lalu, Spurs menjadi kesebelasan langganan papan atas. Musim lalu Spurs menjadi kandidat kuat juara sebelum akhirnya disalip Arsenal dalam perebutan posisi kedua. Musim ini, skuat asuhan Mauricio Pochettino ini pun mampu bersaing dengan Chelsea, Liverpool, Arsenal, dan Manchester City, bahkan mengangkangi Manchester United.

Spurs mendorong para pemain tengah ke depan saat tak menguasai bola untuk melakukan counter-pressing. Ini dilakukan untuk mendapatkan bola kedua jika bola yang diarahkan pada Harry Kane berhasil diantisipasi lawan dan melahirkan bola luar alias bola kedua.

Ketangguhan Moussa Dembele dan/atau Victor Wanyama dalam merebut bola pun membantu Spurs mendapatkan bola kedua di lini pertahanan lawan. Dengan Christian Eriksen dan Dele Alli yang lebih sering berada di lini pertahanan lawan, bola kedua pun bisa dengan cepat menginisiasi serangan Spurs, yang membuat Dele Alli berkontribusi banyak dalam setiap serangan Spurs.

City pun sebenarnya kerap melakukan apa yang dilakukan Liverpool dan Spurs. Namun Pep tak menyiapkan kesebelasannya untuk menguasai bola lewat bola kedua. Selain Pep mengakui jika ia tak pernah melatih anak asuhannya untuk merebut bola, indikasi ini terlihat dengan penguasaan bola Pep yang berorientasi pada serangan yang dibangun lewat kiper serta penciptaan ruang lewat pergerakan pemain dan umpan-umpan pendek. Inilah yang membuat Pep cukup kesulitan hingga paruh musim pertama musim 2016/2017.

Pep memang cenderung mengabaikan bola kedua. Padahal sepakbola Inggris yang khas dengan kick and rush-nya, begitu mengandalkan umpan-umpan panjang yang berpotensi melahirkan bola kedua, di mana ini menjadi penting di sepakbola Inggris.

“Ia [Pep] bukan sedang mencari (taktik yang tepat), melainkan mengubahnya,” kata pemain andalan Manchester City, Kevin De Bruyne. “Di satu sisi ia sedang beradaptasi (dengan sepakbola Inggris), di sisi lain ia selalu ingin memainkan sepakbola dominan untuk memaksa lawan berada dalam bahaya.”

Dalam sebuah wawancara Sky Sports yang juga turut menghadirkan legenda Arsenal, Thierry Henry, di akhir 2016, Pep mengakui soal dirinya yang masih mengabaikan bola kedua meski sempat diingatkan oleh mantan asuhannya yang pernah berkiprah di Liga Inggris, Xabi Alonso. Pep masih bertahan dengan filosofi sepakbola Spanyol, khususnya possession football.

“Bola lebih sering berada di udara daripada di rumput. Sebelumnya, saya berada di Munich dan berbicara dengan Xabi Alonso, dan ia berkata: `Anda harus beradaptasi, bola kedua.. bola kedua!`. Bola kedua, ketiga bahkan keempat mungkin. Saya tidak pernah fokus terhadap hal itu sebelumnya. Karena di Barcelona atau Spanyol, sedikit pemain yang bermain untuk kultur sepakbola negaranya. Di Jerman, lebih cepat dan fisikal, tidak seperti di sini,” tutur Pep.

“Selain Chelsea, karena Antonio Conte bekerja dengan baik dalam membangun Chelsea ketika menguasai bola, kesebelasan lain di sini memiliki postur lebih tinggi, lebih kuat, dan Anda harus beradaptasi dan mampu membangun serangan dari hal tersebut,” imbuh Pep.

Pep yang masih berusaha mengombinasikan filosofinya dan sepakbola Inggris-lah yang membuat Manchester City asuhan Pep kalah impresif dibanding kesebelasan papan atas lain. Jika Pep mengurangi sedikit egonya, mungkin Manchester City tak akan terlalu kesulitan merangsek papan atas.

Sementara itu, Chelsea berada di papan atas karena memiliki pemain yang handal dalam mendapatkan bola kedua; N`Golo Kante. Arsenal memiliki Olivier Giroud (untuk duel bola udara) dan gelandang perebut bola (kedua) macam Francis Coquelin atau Granit Xhaka. Sedangkan Liverpool dan Tottenham, memanfaatkan bola kedua dengan cara yang berbeda, yakni lewat counter-pressing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *