Jakarta — Malam itu, ruang tamu rumah Rudi (38) terasa lebih sunyi dari biasanya. Ponsel yang dulu rajin menampilkan grafik keuntungan kini hanya menampilkan pesan tak terbalas. Uang hasil kerja bertahun-tahun, yang ia harapkan bisa mengubah hidup keluarga kecilnya, justru menguap tanpa kabar. Rudi adalah satu dari sekian banyak warga yang kini mengaku menjadi korban dugaan penipuan investasi kripto, tergiur janji manis hidup mewah ala influencer di media sosial. “Saya cuma pengin hidup lebih layak. Lihat dia pamer mobil, liburan, katanya semua dari kripto. Saya percaya,” ujar Rudi lirih, sambil menunduk. Apa & Siapa yang Terjadi? Sejumlah warga melaporkan diri sebagai korban dugaan penipuan investasi kripto setelah tergiur promosi seorang influencer yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Kasus ini mencuat setelah para korban menyadari dana yang mereka setor tak bisa ditarik kembali. Cerita para korban ini terungkap ke publik setelah mereka memberanikan diri berbicara, berharap tak ada lagi orang yang jatuh ke lubang yang sama. Tabungan, Harapan, dan Kepercayaan yang Hilang Bagi para korban, kerugian bukan hanya soal angka. Ada harapan keluarga yang runtuh, rencana masa depan yang hancur, dan rasa bersalah yang sulit diungkapkan. “Uangnya rencana buat sekolah anak,” kata Lina (34), ibu dua anak yang ikut menanamkan modal. “Sekarang saya bingung harus jelasin ke suami. Malu, sedih, takut semuanya campur jadi satu.” Beberapa korban mengaku meminjam uang dari kerabat, bahkan menjual barang berharga, demi mengikuti investasi yang disebut-sebut “pasti untung” itu. Janji hidup berubah cepat justru berubah jadi beban pikiran setiap hari. Dari Rayuan Hingga Kesadaran Pahit Semua bermula ketika para korban melihat konten promosi di media sosial. Sang influencer kerap memperlihatkan gaya hidup mewah, sambil menyebut investasi kripto sebagai sumber kekayaannya. Awalnya, beberapa korban sempat menerima keuntungan kecil. Hal itu membuat mereka semakin yakin dan menambah modal. Namun, beberapa waktu kemudian, aplikasi sulit diakses, penarikan dana tertunda, hingga akhirnya akun komunikasi tertutup sama sekali. “Awalnya lancar, makanya kami percaya. Tapi begitu setor besar, semuanya berhenti,” ungkap Rudi. Suara Korban dan Warganet Curhatan para korban pun ramai di media sosial. Banyak warganet menyampaikan empati, namun tak sedikit pula yang mengingatkan soal risiko investasi. “Saya juga hampir ikut, untung keburu sadar,” tulis seorang pengguna media sosial. “Semoga korban dapat keadilan, ini pelajaran pahit buat kita semua,” komentar warganet lainnya. Para korban kini saling menguatkan, membentuk komunikasi bersama untuk mencari jalan keluar dan keadilan. Menanti Kepastian dan Belajar dari Luka Saat ini, para korban berharap ada tindak lanjut dan kejelasan hukum atas dugaan penipuan yang mereka alami. Lebih dari itu, mereka ingin kisah ini menjadi peringatan bagi masyarakat luas agar tak mudah tergiur janji kekayaan instan. “Kalau bisa waktu diputar, saya lebih pilih hidup sederhana tapi tenang,” kata Lina pelan. Di balik gemerlap dunia digital, kisah para korban ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan adalah harta paling mahal, dan sekali hilang, dampaknya bisa terasa sangat dalam. Post navigation Diduga Ada Aliran Dana Kasus Korupsi Kuota Haji ke Tokoh PBNU, Warga Ikut Tercengang ETLE Drone Polri: Teknologi Baru untuk Rekam Pelanggaran Lalu Lintas yang Sulit Terpantau